Jump to content

Grants:Programs/Wikimedia Community Fund/Rapid Fund/Wiki Cagar Budaya 3.0 (ID: 23651979)/Final Report

From Meta, a Wikimedia project coordination wiki
Mirani Pramitasari
Wiki Cagar Budaya 3.0
24 January 2026 - 30 June 2026
Report ID: 13244
Report status: Accepted
Report due date: 30 July 2026
Grant ID: G-RF-2510-21007
Amount funded: 53050000 IDR, 3180.27 USD
Amount spent: 53058484 IDR
Rapid Fund Final Report

Application type: Standard application

Part 1: Project and impact

1. Describe the implemented activities and results achieved. Additionally, share which approaches were most effective in supporting you to achieve the results. (required)

Proyek ini merupakan kelanjutan dari dua proyek pada iterasi sebelumnya, yakni WikiCagarBudaya dan juga Wiki Cagar Budaya 2.0. Melalui proyek yang terakhir ini kami ingin melengkapi seluruh kegiatan dokumentasi cagar budaya di Jawa Barat dan juga Banten. Meskipun pada akhirnya kami hanya dua hari saja berkunjung ke Banten, lebih tepatnya ke Kota Serang dan Kabupaten Serang.

Seperti yang sudah kami terapkan pada dua proyek sebelumnya bahwa kami mengelompokkan kecamatan yang ada di masing-masing kota dan kabupaten dengan tujuan agar perjalanan menjadi lebih efektif. Meskipun ketika kami berkunjung ke kabupaten, jarak dari satu tempat ke tempat lain cukup jauh, tidak seperti di kota yang jarak dari satu tempat ke tempat lain relatif dekat.

Ketika kami akan melaksanakan kegiatan dokumentasi di Banten, kami mengalami kendala teknis yakni tingginya biaya sewa mobil jika dibandingkan dengan sewa mobil dari Bandung menuju Tasikmalaya. Meskipun demikian, kami tetap meluangkan waktu selama dua hari ke Kota dan Kabupaten Serang.

Sisa waktu enam hari yang kami miliki untuk berkunjung ke daerah lain di Banten (Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kota Cilegon, serta Kota Tangerang) terpaksa kami alihkan untuk berkunjung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat yang memiliki daftar cagar budaya yang relatif banyak agar perjalanan kami tidak menjadi sia-sia. Selain itu juga untuk memastikan metriks capaian kami di Wikimedia Commons seperti yang tercantum dalam proposal tidak akan berkurang secara drastis.

Pada saat bulan puasa, kami tidak melakukan kegiatan dokumentasi sama sekali, tetapi kami tetap berkontribusi dengan membuat dan mengembangkan artikel, baik di Wikipedia Indonesia maupun Sunda. Sambil menyunting di Wikipedia, kami mencari-cari daftar cagar budaya yang valid di Jawa Barat. Dengan mencari daftar cagar budaya dari referensi yang dapat dipercaya, akhirnya kami memutuskan untuk berkunjung ke Kabupaten Cianjur, Kabupaten Subang, serta Kabupaten Bandung Barat.

Dalam pelaksanaan di lapangan, kendala teknis tetap tidak bisa kami hindari. Kendala pertama yang kami hadapi adalah terkait perizinan untuk mendokumentasikan bangunan, instansi cagar budaya yang kami kunjungi kerap memberi solusi kepada kami untuk bertemu langsung dengan pimpinan pada hari dan jam kerja. Hal tersebut cukup sulit kami lakukan karena kami hanya memiliki waktu di akhir pekan. Kendala kedua yang kami hadapi yakni adanya foto-foto yang rusak (corrupt) ketika kami melakukan dokumentasi di Kabupaten Subang. Pada saat itu, kami memakai perangkat kamera yang berbeda dengan yang biasa kami gunakan. Terlebih lagi, satu kamera semestinya dipasangkan dengan satu kartu memori saja, karena ketika memakai dua kartu memori, pada akhirnya sebagian foto-foto yang ada di kartu memori yang satu menjadi hilang ketika diperiksa di laptop. Sementara itu, foto-foto di kartu memori yang satunya lagi tetap tersimpan dan tetap dapat terlihat di laptop. Kedua jenis kendala yang kami hadapi ini tentunya berdampak kepada capaian target dokumentasi kami.

Meskipun ada beberapa kendala yang kami hadapi, namun kami tetap optimis untuk dapat menyelesaikan target proyek dengan baik. Berdasarkan hasil evaluasi ulang terhadap dokumentasi cagar budaya di Kota Bandung, terdapat 15 bangunan iterasi proyek yang pertama (WikiCagarBudaya) yang belum terdokumentasikan. Data ini akan kami gunakan agar dapat memenuhi target dokumentasi pada proyek yang ketiga ini.

Berkaitan dengan perizinan, di awal proyek kami telah melakukan antisipasi dengan mengirimkan surat permohonan kerja sama ke Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Barat. Langkah ini diambil untuk dapat berkolaborasi demi kelancaran proyek dokumentasi, baik dalam hal pengurusan izin maupun sinkronisasi daftar bangunan yang dimiliki instansi tersebut. Namun hingga saat ini, kami belum berkesempatan untuk mengadakan pertemuan lanjutan. Oleh karena itu, ketersediaan daftar bangunan cagar budaya cadangan akan sangat membantu kami dalam memenuhi target metriks kami.

2. Documentation of your impact. Please use space below to share links that help tell your story, impact, and evaluation. (required)

Share links to:

  • Project page on Meta-Wiki or any other Wikimedia project
  • Dashboards and tools that you used to track contributions
  • Some photos or videos from your event. Remember to share access.

You can also share links to:

  • Important social media posts
  • Surveys and their results
  • Infographics and sound files
  • Examples of content edited on Wikimedia projects

Jawaban

Beberapa foto atau video dari acara Anda.

Additionally, share the materials and resources that you used in the implementation of your project. (required)

For example:

  • Training materials and guides
  • Presentations and slides
  • Work processes and plans
  • Any other materials your team has created or adapted and can be shared with others

Jawaban
Presentasi WikiLatih: Salindia materi WikiLatih Tasik 31 Mei 2026

3. To what extent do you agree with the following statements regarding the work carried out with this Rapid Fund? You can choose “not applicable” if your work does not relate to these goals. Required. Select one option per question. (required)

Our efforts during the Fund period have helped to...
A. Bring in participants from underrepresented groups Agree
B. Create a more inclusive and connected culture in our community Strongly agree
C. Develop content about underrepresented topics/groups Agree
D. Develop content from underrepresented perspectives Agree
E. Encourage the retention of editors Strongly agree
F. Encourage the retention of organizers Strongly agree
G. Increased participants' feelings of belonging and connection to the movement Strongly agree
F. Other (optional)

Part 2: Learning

4. In your application, you outlined some learning questions. What did you learn from these learning questions when you implemented your project? How do you hope to use this learnings in the future? You can recall these learning questions below. (required)

You can recall these learning questions below: Kami ingin mengetahui sejauh mana masyarakat menyadari pentingnya tradisi tulisan mengenai sejarah lokal. Kerap kali ketika kami mengunjungi bangunan cagar budaya, kami mendapati para juru kunci yang begitu fasih berbicara mengenai sejarah, namun narasi yang disampaikan secara lisan akan mudah dilupakan begitu saja, sementara tulisan tidak akan terhapus begitu saja. Makna tulisan pada era modern ini tidak sebatas pada apa yang kita dapatkan ketika membaca buku saja, tulisan yang akan tersebar di internet tidak mudah terhapus jejaknya serta dapat dibaca secara luas oleh masyarakat. Dengan catatan bahwa penulisan sejarah tersebut harus akurat agar generasi selanjutnya tidak salah kaprah mengenai sejarahnya sendiri.

Tujuan pembelajaran kami adalah ingin mengetahui sejauh mana tradisi tulisan memiliki pengaruh yang kuat dalam menjaga keberlanjutan sejarah lokal. Melalui rangkaian kegiatan dokumentasi cagar budaya yang telah dilaksanakan di beberapa kota di Jawa Barat dan Banten, kami memperoleh berbagai pembelajaran mendalam yang sangat berharga bagi keberlanjutan proyek ini. Proses turun langsung ke lapangan memberikan pemahaman baru bahwa dokumentasi cagar budaya bukan sekadar aktivitas merekam fisik bangunan atau situs bersejarah secara visual. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan upaya krusial dalam menyelamatkan narasi sejarah dan nilai-nilai lokal yang melekat pada setiap cagar budaya agar tidak hilang tergerus zaman. Salah satu contohnya ketika berkunjung ke Bumi Ageung Cikidang di Kabupaten Cianjur, pengelola cagar budaya di tempat tersebut menunjukkan beberapa dokumentasi tertulis, baik itu skripsi atau tulisan ilmiah yang berkaitan dengan sejarah Cianjur pada umumnya dan mengenai cagar budaya secara khusus.

Lalu, sebagai kelanjutan dari proyek WCB 2.0, kami pada akhirnya memahami bahwa cagar budaya (bangunan, situs, dan struktur) di masing-masing daerah di Jawa Barat dan Banten saling berhubungan. Kami seakan-akan sedang menyusun kepingan-kepingan puzzle. Salah satu contoh adalah Kota Cirebon sebagai salah satu wilayah penyebaran Islam di Jawa Barat ternyata memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap sejarah di Provinsi Banten. Ketika berkunjung ke Majalengka, khususnya ke Rumah Adat Panjalin, akhirnya kami memahami bahwa bangunan cagar budaya tersebut memiliki keterkaitan historis yang cukup kuat dengan Kota Cirebon.

​Selama proses tersebut, kami mengamati adanya variasi kondisi dan tantangan pengelolaan cagar budaya di setiap wilayah yang kami kunjungi. Kami menemukan realitas bahwa penetapan status cagar budaya secara legal-formal belumlah cukup, karena tantangan sesungguhnya berada pada keberlanjutan pemeliharaan yang sering kali terkendala oleh masih minimnya dukungan. Pengalaman menghadapi tantangan birokrasi ini menyadarkan kami akan pentingnya pendekatan pelestarian yang adaptif serta urgensi digitalisasi informasi. Pengarsipan berbasis digital atau publikasi berbasis data terbuka terbukti menjadi garda terdepan dalam memastikan data cagar budaya dapat tersimpan dengan aman, sekaligus dapat diakses dengan mudah oleh publik, akademisi, dan generasi mendatang.

​Seluruh wawasan dan pengalaman lapangan ini menjadi fondasi kuat bagi kami untuk merancang strategi edukasi yang lebih efektif. Pembelajaran yang telah kami petik ini juga akan menjadi materi yang siap kami formulasikan dan diseminasikan secara luas kepada komunitas global dan masyarakat umum melalui berbagai kanal publikasi strategis yang ada, guna memastikan dampak proyek ini dapat berkelanjutan.

Pembelajaran yang kami petik bukan hanya berfokus pada proses dokumentasi saja, melainkan pada seluruh rangkaian pelaksanaan program, khususnya pada saat kegiatan WikiLatih di Tasikmalaya. Kami telah mengumpulkan masukan dari para peserta melalui formulir evaluasi untuk meningkatkan kapasitas tim dalam pengelolaan kegiatan di masa mendatang. Catatan positif dari evaluasi ini akan tetap kami pertahankan, sementara aspek yang masih kurang akan menjadi fokus perbaikan kami selanjutnya.

Berdasarkan umpan balik peserta, pelaksanaan WikiLatih ini berjalan dengan baik di beberapa aspek utama. Dari segi penyampaian materi sebanyak 85,7% peserta menilai bahwa penjelasan materi yang disampaikan sangat jelas. Selain itu, kehadiran pelatih pendamping juga mendapat apresiasi positif karena dinilai ramah, menyenangkan, serta sangat sigap dalam membantu kesulitan peserta selama praktik penyuntingan. Seluruh peserta merasakan manfaat langsung dari kegiatan WikiLatih ini dan terbukti memberikan dampak positif yang nyata bagi peningkatan kapasitas mereka. Hal ini tercermin dari hasil evaluasi yang menunjukkan bahwa sebanyak 71,4% peserta berencana untuk melanjutkan kontribusi setelah kegiatan pelatihan. Bahkan terdapat harapan kolektif agar sesi penyuntingan serupa dapat kembali diselenggarakan di Tasikmalaya dengan tetap melibatkan pendampingan intensif dari tim panitia.

Sementara itu, terdapat beberapa aspek yang menjadi catatan evaluasi untuk peningkatan kualitas program di masa mendatang. Pertama, terkait durasi pelatihan yang dirasa terlalu singkat oleh para peserta. Menariknya, peserta menyatakan tidak keberatan dengan durasi kegiatan yang lebih panjang, asalkan mereka mendapatkan waktu praktik yang cukup untuk memahami tata cara penyuntingan dengan baik dan benar. Kedua, adanya kebutuhan dari peserta untuk menghadirkan sesi ice breaking. Mengingat pelatihan penyuntingan ini membutuhkan konsentrasi tinggi, sesi permainan singkat yang seru namun tetap efisien dinilai sangat penting untuk menjaga fokus, mencairkan ketegangan selama pembuatan artikel.

Selain pada sesi kegiatan pelatihan, kami juga melakukan evaluasi berbasis sampel kualitatif terhadap kegiatan penyuntingan bersama/kopi darat (kopdar). Kami menghimpun umpan balik dengan mengajukan dua pertanyaan pemantik secara langsung pada perwakilan peserta yang hadir secara luring maupun daring mengenai aspek yang sudah berjalan dengan baik dan hal yang perlu ditingkatkan sebagai bahan evaluasi pasca acara kegiatan kopdar.

Berdasarkan umpan balik yang kami terima, secara umum pelaksanaan kegiatan berjalan dengan lancar dan mendapat respon positif meskipun diselenggarakan secara hibrida. Para peserta dibebaskan untuk mengikuti kegiatan baik secara tatap muka atau melalui Google Meet. Selain itu, peserta mengapresiasi upaya kami ketika membuat suvenir berupa kartu pos dan pembatas buku yang menampilkan foto-foto hasil dokumentasi yang telah kami unggah ke Wikimedia Commons. Inisiatif ini kami hadirkan sebagai wujud portofolio fisik proyek, sekaligus upaya nyata agar semangat pelestarian cagar budaya dapat memberikan kesan yang mendalam dan terus melekat dalam ingatan para peserta.

Sementara itu, terdapat kendala yang mereka hadapi pada saat kopdar yaitu, referensi mengenai cagar budaya di internet yang belum dapat dikatakan memadai, tetapi lumayan cukup untuk membuat artikel rintisan. Referensi yang ada lebih banyak disediakan oleh situs berita-berita lokal, sementara sumber yang berupa jurnal masih terbatas. Kami pun berharap bahwa artikel yang dibuat oleh para peserta kopdar bukan sekadar artikel rintisan. Artikel kelas A dan kelas B mungkin akan sulit untuk dicapai, tetapi setidaknya dari beberapa artikel yang dibuat oleh mereka, ada yang masuk kriteria sebagai artikel kelas awal atau kelas C.

Di antara berbagai umpan balik yang diterima, para peserta turut menyampaikan harapan agar data-data cagar budaya yang terhimpun dalam proyek Wiki Cagar Budaya, dari iterasi pertama hingga ketiga ini dapat menjadi perhatian dan dimanfaatkan oleh pemerintah. Kami cukup beruntung dapat menemukan daftar cagar budaya di Kota Bandung yang bersumber dari Open Data Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Bandung beserta dengan penggolongannya yakni bangunan cagar budaya (bangunan tipe A, tipe B, dan tipe C), struktur cagar budaya, serta situs cagar budaya. Meskipun dalam kenyataannya, ada beberapa bangunan cagar budaya di Kota Bandung yang masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya sekalipun sudah beralih fungsi, dan ada juga beberapa bangunan yang sudah direnovasi menjadi bangunan modern.

Kami berharap pemerintah di daerah-daerah lain yang ada di wilayah Jawa Barat dapat menghimpun data cagar budaya secara komprehensif agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas di masa kini maupun masa mendatang. Sebagai langkah terobosan, pemerintah perlu membangun kolaborasi yang inklusif dengan merangkul berbagai pihak. Pendataan dan pelestarian cagar budaya sejatinya bukanlah beban tunggal pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan berbagai pihak, upaya merawat dan melindungi warisan cagar budaya ini dapat berjalan dengan lebih optimal, partisipatif, dan berkelanjutan.

5. Did anything unexpected or surprising happen when implementing your activities? This can include both positive and negative situations. What did you learn from those experiences? (required)

Seperti yang telah kami uraikan pada jawaban nomor 1 bahwa kami mengalami kendala ketika akan berkunjung ke Provinsi Banten. Akibatnya, dari rencana awal selama 8 hari, kami hanya dapat melaksanakan 2 hari kunjungan ke Kota Serang dan Kabupaten Serang. Ketika mencoba berkunjung ke wilayah lain sebagai pengganti Banten pun, kami kembali mengalami kendala yakni tidak diizinkan untuk dokumentasi. Beruntungnya, kami masih memiliki daftar cagar budaya alternatif (cadangan) dari daftar cagar budaya yang belum terdokumentasikan.

Di balik kesusahan tentu ada kemudahan (blessing in disguise). Hal itulah yang kami alami ketika berkunjung ke Kota Serang dan Kabupaten Serang. Sebelum berangkat, kami telah menyiapkan 13 daftar cagar budaya yang menjadi target. Dari seluruh daftar tersebut, hanya ada satu tempat yang tidak terdokumentasikan yakni Patapan Sultan Banten yang terletak di Kabupaten Serang karena tempatnya tutup dan tidak ada penjaga yang dapat memberikan informasi kepada kami. Sebaliknya, proses dokumentasi di 12 bangunan lainnya berjalan tanpa kendala berarti, bahkan pengelola maupun penjaga cagar budaya di sana sangat terbuka dan ramah kepada kami. Perjalanan kami yang cukup jauh menuju ke dua wilayah tersebut menjadi terbayarkan oleh kelancaran dan keramahan yang kami terima di lapangan.

Hal mengejutkan lainnya yang kami temukan di lapangan adalah belum optimalnya perhatian dan dukungan nyata terhadap pelestarian cagar budaya di wilayah yang kami kunjungi. Kami mendapati bahwa sebagian besar cagar budaya masih minim mendapatkan dukungan, baik dalam bentuk asistensi langsung maupun bantuan materiil untuk perawatan fisik bangunan agar terhindar dari kerusakan akibat usia.

Masih berkaitan dengan dukungan dari pemerintah terhadap cagar budaya, kami mendapat perspektif lain yakni ketika kami berkunjung ke Bumi Ageung Cikidang, pihak pengelola cagar budaya justru memilih untuk menjaga independensi mereka dari birokrasi formal demi fleksibilitas pengelolaan. Mereka memilih jalur mandiri dengan mengandalkan sistem swadaya melalui donasi sukarela dari masyarakat atau pengunjung. Fenomena ini menunjukkan bahwa pelestarian cagar budaya di lapangan memiliki pola pendekatan yang sangat beragam.

Hal menarik lainnya berkaitan dengan penyelenggaraan acara pelatihan menulis Wikipedia (WikiLatih), kami melaksanakan kegiatan WikiLatih di Tasikmalaya. Saat itu kami membutuhkan 4 orang pelatih, sementara tim kami hanya 3 orang. Untuk mengatasi keterbatasan ini, kami mengajak salah seorang anggota dari komunitas Wikimedia Bandung untuk terlibat sebagai pelatih pendamping. Menariknya, rekan komunitas kami adalah salah satu peserta kegiatan photowalk di proyek WikiCagarBudaya (WCB iterasi pertama). Kami sangat mengapresiasi keaktifannya dalam proyek kami ini, yang semula dia hanya sebagai peserta, lalu seiring berjalanya waktu, dia dapat bergabung kembali dengan kami dengan peran yang cukup penting.

Selain itu, saat menyelenggarakan kegiatan menyunting bersama komunitas (kopdar/edit-a-thon), kami sempat menghadapi tantangan kecil terkait output penulisan. Awalnya, kami merencanakan agar masing-masing peserta membuat 2 artikel, yaitu 1 artikel Wikipedia Indonesia dan 1 artikel Wikipedia Sunda. Namun, kami mendapati realitas bahwa ada beberapa peserta yang tidak bisa berbahasa Sunda, tetapi memiliki ketertarikan yang besar terhadap acara ini. Agar ruang belajar tetap ramah dan inklusif bagi semua orang, kami memutuskan untuk melonggarkan aturan tersebut dan mengizinkan mereka menulis kedua artikel di Wikipedia Indonesia. Kami meyakini bahwa menjaga antusiasme kontribusi dari para peserta perlu lebih diutamakan daripada kaku terhadap batasan yang justru dapat menghambat produktivitas mereka.

6. What is your plan to share your project learnings and results with other community members? If you have already done it, describe how. (required)

Sebagai bentuk pendukung laporan, kami telah membuat Dashboard Wikidata yang disusun interaktif menggunakan Google Sites dengan memanfaatkan fitur layanan kueri Wikidata. Data-data cagar budaya yang terhimpun dalam dashboard tersebut merupakan kumpulan cagar budaya dari mulai proyek iterasi pertama hingga ketiga. Data cagar budaya yang ditampilkan berupa peta persebaran, kumpulan foto-foto (galeri) serta daftar cagar budaya yang ada di masing-masing kota dan kabupaten.

Berkaitan dengan hal ini, beberapa bulan silam, kami merencanakan untuk membagikan pengetahuan ini kepada para peserta konferensi WikiNusantara 2026 yang dihelat di Makasar. Namun karena keterbatasan kuota peserta di tengah tingginya antusiasme pendaftar, kesempatan untuk berbagi di Konferensi tersebut belum dapat terealisasi, sehingga pembelajaran ini akan dibagikan pada internal komunitas, baik Komunitas Wikimedia Bandung maupun Komunitas Wikidata Indonesia. Dengan Komunitas Wikimedia Bandung, kami akan banyak menyampaikan materi mengenai cagar budaya di Jawa Barat, sementara dengan Komunitas Wikidata, kami akan berbagi pengalaman dalam menyunting di Wikidata dengan tema cagar budaya. Kami pun akan dengan senang hati berbagi ilmu kepada kedua komunitas tersebut jika mereka ingin mempelajari teknik penyuntingan di Wikidata tingkat lanjut seperti memanfaatkan layanan kueri Wikidata menggunakan SPARQL yang lebih kompleks. Berikut ini adalah tautan menuju Google Sites Dashboard Wiki Cagar Budaya

Selain itu, untuk mengoptimalkan diseminasi informasi dan dampak kegiatan, kami akan memperluas jangkauan publikasi melalui berbagai kanal strategis. Hal ini mencakup platform resmi seperti blog Wikimedia Indonesia (wikimedia.or.id), Diff Wikimedia, media sosial komunitas, serta Newsletter EduWiki Hub khususnya untuk memublikasikan laporan keberhasilan dari kegiatan Wikilatih yang telah kami laksanakan sebelumnya.

Kami juga berencana untuk menyelenggarakan kegiatan penyuntingan tingkat lanjut di Wikimedia Commons. Salah satunya adalah menghidupkan kembali kampanye penambahan data terstruktur ke dalam foto-foto di Wikimedia Commons, suatu kampanye yang pernah dilakukan oleh Wikimedia Indonesia beberapa tahun terakhir, namun belakangan ini sepertinya sudah tidak ada. Melalui kegiatan ini, kami berharap rekan-rekan komunitas dapat melangkah lebih jauh dari sekadar mengunggah foto, tetapi juga dibekali keterampilan untuk membuat kategori spesifik tiap bangunan, bukan hanya menambahkan kategori umum berdasarkan nama proyek saja. Selain itu, kami juga akan mengenalkan cara bagaimana menambahkan kategori secara massal melalui fitur Cat-a-lot, menautkan foto-foto di Wikimedia Commons secara terintegrasi dengan Wikipedia dan Wikidata.

Terlebih lagi beberapa komunitas yang didukung oleh Wikimedia Indonesia diberikan kesempatan untuk menyelenggarakan photowalk secara mandiri pada tahun ini. Momentum ini akan kami manfaatkan sebagai langkah keberlanjutan di masa depan, di mana kami berencana untuk membagikan pengetahuan teknis di Wikimedia Commons kepada para peserta photowalk, sehingga hasil dokumentasinya dapat lebih terintegrasi.

Part 3: Metrics

7. Wikimedia Metrics results. (required)

In your application, you set some Wikimedia targets in numbers (Wikimedia metrics). In this section, you will describe the achieved results and provide links to the tools used.

Target Results Comments and tools used
Number of participants 22 28 28 orang yang terdiri dari 15 orang (15 pengguna baru) di kegiatan WikiLatih Tasik dan 13 orang (1 orang pengguna baru dan 12 pengguna lama) di kegiatan kopdar Daluring di Bandung
Number of editors 25 30 30 orang yang terdiri dari 15 orang editor di WikiLatih, 12 orang editor di kopdar, dan 3 orang anggota tim proyek.
Number of organizers 4 4 4 orang yang terdiri dari 3 anggota tim proyek dan 1 orang pelatih pendamping di acara WikiLatih Tasik
Wikimedia project Target Result - Number of created pages Result - Number of improved pages
Wikipedia 100 102 12
Wikimedia Commons 375 939 0
Wikidata 75 59 31
Wiktionary
Wikisource
Wikimedia Incubator
Translatewiki
MediaWiki
Wikiquote
Wikivoyage 5 0 0
Wikibooks
Wikiversity
Wikinews
Wikispecies
Wikifunctions or Abstract Wikipedia

8. Other Metrics results.

In your proposal, you could also set Other Metrics targets. Please describe the achieved results and provide links to the tools used if you set Other Metrics in your application.

Other Metrics name Metrics Description Target Result Tools and comments
Wikidata dashboard berupa peta persebaran cagar budaya Pembuatan Wikidata dashboard dengan memanfaatkan google sites. Dalam situs tersebut, terangkum data-data visual cagar budaya di Tasikmalaya, Majalengka, Cirebon, serta Banten seperti peta persebaran cagar budaya di masing-masing daerah, daftar cagar budaya dalam bentuk tabel, serta galeri cagar budaya pada masing-masing daerah tersebut. 1 1 Google Sites https://sites.google.com/view/wiki-cagar-budaya-3-0/home
GLAMorous Alat ini berguna untuk mengetahui seberapa banyak foto-foto yang kami unggah dipakai ulang di berbagai proyek Wikimedia yang lain. 1 https://glamtools.toolforge.org/glamorous/?mode=category&text=Wiki%20Cagar%20Budaya%203.0

9. Did you have any difficulties collecting data to measure your results? (required)

Yes

9.1. Please state what difficulties you had. How do you hope to overcome these challenges in the future? Do you have any recommendations for the Foundation to support you in addressing these challenges? (required)

Untuk mengukur data kuantitatif, kami memanfaatkan perkakas Outreach Dashboard untuk mengukur capaian target kami, khususnya tim proyek yang terdiri dari 3 orang, maupun capaian target kegiatan kami untuk komunitas di dua kegiatan berbeda yakni WikiLatih di Tasikmalaya serta kopdar hibrida di Bandung.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa kami menyunting di 3 proyek Wikimedia yakni Wikipedia (Indonesia dan Sunda), Wikimedia Commons, dan Wikidata. Saat proyek berlangsung, kami pun ikut menyunting di 3 proyek tersebut bersama teman-teman komunitas di luar kegiatan proyek kami. Oleh karena itu, capaian target di Outreach Dashboard tidak sepenuhnya mencerminkan hasil metriks kami karena telah tercampur dengan metriks di kegiatan lain. Dengan demikian, kami membuat rekapitulasi penyuntingan kami melalui Google Spreadsheet.

Sementara itu, untuk data kualitatif dan pengelompokan yang lebih detail, kami menerapkan pembuatan kategori yang spesifik pada setiap proyek Wikimedia. Kategori khusus ini sangat membantu kami dalam melakukan rekapitulasi serta mengevaluasi hasil kontribusi tim proyek dan peserta.

Part 4: Financial reporting

[edit]

10. Please state the total amount spent in your local currency. (required)

53058484

11. Please state the total amount spent in US dollars. (required)

2957.15

12. Report the funds spent in the currency of your fund. (required)

Provide the link to the financial report Laporan keuangan WCB 3.0


12.2. If you have not already done so in your financial spending report, please provide information on changes in the budget in relation to your original proposal. (optional)


13. Do you have any unspent funds from the Fund?

No

13.1. Please list the amount and currency you did not use and explain why.

N/A

13.2. What are you planning to do with the underspent funds?

N/A

13.3. Please provide details of hope to spend these funds.

N/A

14.1. Are you in compliance with the terms outlined in the fund agreement?

Yes

14.2. Are you in compliance with all applicable laws and regulations as outlined in the grant agreement?

Yes

14.3. Are you in compliance with provisions of the United States Internal Revenue Code (“Code”), and with relevant tax laws and regulations restricting the use of the Funds as outlined in the grant agreement? In summary, this is to confirm that the funds were used in alignment with the WMF mission and for charitable/nonprofit/educational purposes.

Yes

15. If you have additional recommendations or reflections that don’t fit into the above sections, please write them here. (optional)

Kami sangat berterima kasih atas masukan dan saran dari teman-teman Wikimedia Indonesia dalam meninjau proposal kami. Masukannya sangat berarti bagi kami. Namun, saat kami mencoba menyesuaikan ulang proposal, kami menemukan sedikit tantangan dalam menyelaraskan masukan secara menyeluruh (holistik). Sebagai contoh, terdapat saran untuk memperluas cakupan wilayah pelatihan di luar Tasikmalaya, namun di saat yang sama ada rekomendasi untuk melakukan penyesuaian anggaran secara signifikan.

Secara operasional, kami melihat kedua masukan ini mungkin perlu disinkronkan kembali. Oleh karena itu, kami sangat menghargai jika proses peninjauan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan keterkaitan antar aspek secara utuh, agar proposal yang dihasilkan benar-benar seimbang dan realistis untuk dijalankan.