Sekar Kinanthi Kidung Wening/Catatan

Satu patah kata saja darimu terkait nasibku, tak ada kamus mudah-mudahan begini atau begitu dariku.
Walau engkau hunuskan pedang Zulfikar, aku akan tetap bergeming dan tak akan lari seperti angin di puncak kalvari.
Kukenang firman-firman Tuhan di antara alif dan lam. Namun, masih tiada nama kita. Apakah mungkin jalan kita tak pernah bertemu di suatu titik "amin"? Atau, nama kita sudah ada yang mewarisi di tiap jeda hijaiah-Nya?
Samarinda, September 2025
Apakah aku samudra dan Kau hanyalah sungai kecil? Apakah aku tak terhingga dan Kau hanyalah ketiadaan? Apakah aku hukum dan Kau hanyalah hakim di luar peradilan? Apakah aku jawaban dan Kau hanyalah pertanyaan sepele sebelum ujian? Saat aku merasakan kebahagiaan, Kau tetap hanyalah gema kesedihan. Gusti, apakah Kau juga kesepian?
Samarinda, September 2025
The joyful, the glad, the fallen, the broken, those who bring regret, who carry sorrow, who bring pain, who leave behind despair. The first tear that ever fell—was when I whispered Your name in every praise I gave; O God.
Bontang, September 2025
Mengapa hari mesti dihitung kalau telah disepakati? Apa karena Tuhan itu pelupa? Atau, ini yang dikatakan Leo Tolstoy—Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu? Dan, kita pun terus menunggu, waktu yang terus berputar, yang tak pernah sesuai dengan hati kecil kita.
Bontang, September 2025
Kali pertama menjejak tanah ini; di bawah langit yang lebar dan bebas, embus angin membawa cerita semak belukar, suara alam mengundang rasa ingin tahu: rimba yang tak terjamah waktu.
Setiap jejak yang kubuat terasa jauh pun dekat. Di sini, sungai mengalir seperti kidung usang, menuntun perjalanan gontai di tiap tapak. Kulihat masa depan dan masa lalu.
Sangatta, Oktober 2025
Bamati paling manyakitkan adalah manyambung hidup, sagan sahebar mambilang nasip Tuhan; “Kiamat pian di Kalimantan”.
Bunuh paling menyakitkan adalah melanjutkan hidup, untuk sekadar menghormati takdir Tuhan; “Kiamatmu di Kalimantan”.
Simpang Perdau, Oktober 2025
Kapalumpungannya, nang tiba lawan bajalan malajari kita sabarapa sanggam kawawa barelaan.
Pada akhirnya, yang datang dan pergi mengajarkan kepada kita seberapa tabah dapat mengikhlaskan diri.
Bengalon, Oktober 2025
Ulun balilir sabat pirman-pirman tiang aras Tuhan di sala alif lawan lam. Tapi, kadada tatatah ngaran kita badua. Barangkali, hanjalur kita rapai wan tasalisih di titik "amin". Atawa, ngaran kita badua tela-tela mawaris di sala hijaiah-Nya?
Kuingat halimun firman-firman arsy Tuhan di antara alif dan lam. Namun, tiada terukir nama kita berdua. Mungkin, jalan kita terpisah dan tak bertemu di titik "amin". Atau, nama kita berdua nyata-nyata mewaris di antara hijaiah-Nya?
Rantau Pulung, Oktober 2025
Sarana balibir, pian pasti jadi ngangal. Sabar saja man diam, ulun kada sampai mangacawai pian. Sabenci kah pian ka rasa nang ulun bawa? Malangnya, ulun saurangan tajabak dalam rasa itu. Lamun tahu akan akhir begitu, ulun walih pilih mamati'i matan tatambayan.
Tak perlu berlari kencang, kau hanya akan lelah. Tenang saja diam pun, aku takkan sampai menggapaimu. Sebenci itukah kau dengan rasa yang kubawa? Mirisnya, aku sendiri terperangkap dalam rasa itu. Dan jika tahu akan berakhir seperti itu, aku pasti memilih untuk membunuhnya sedari awal.
Tepian Indah, Oktober 2025
Tuhan manimburu hamba. Tuhan kakal. Kada inda hamba, manusia pana lawan samseng, nang hingkat bataruh sagan hidup, nang hingkat manangis lawan tatawa sapanjadi, nang hingkat tasarudup lawan puat sapanjadi, nang hingkat mangasihi lawan muar, nang kada puma lawan kada kakal. Tuhan kada maminandui makna bajuang, bapuat, bausaha, lawan sadih badalam. Matannya, Tuhan cuma panimburuan.
Tuhan cemburu kepadaku. Dia abadi. Tidak sepertiku, manusia fana dan bajingan, yang bisa bertaruh bagi kehidupannya, yang bisa menangis dan tertawa sekaligus, yang bisa jatuh dan bangkit pula, yang bisa mencintai sekaligus membenci, yang tidak sempurna dan tidak kekal. Tuhan tidak mengenal arti perjuangan, kebangkitan, usaha keras, dan duka mendalam. Sejatinya, Tuhan hanyalah pencemburu.
Tepian Indah, Oktober 2025
Saksikanlah bahwa aku nyata-nyata pasrah maddah, pada rindu yang luruh tanpa arah. Asaku menjelma doa yang tak meminta balas: hanya mengalir, seperti sungai penyangkalan; menuju samudra getir suratan-Nya.
Aku mencintaimu dengan tenang yang bergetar, bukan untuk memiliki, melainkan memahami bahwa setiap rasa, sekecil debu di telapak waktu
pun tunduk di bawah kodrat Ilahi.
Dan, bila rindu ini tak sampai, biarlah ia menjadi kidung sunyi yang menetap hening di Tepian Indah; menyatu perlahan dengan reda dan fitrah lillah.
Tepian Indah, Oktober 2025
Dan, saat aku melaksanakan kewajibanku untuk menyembah-Nya, tetap tidak ada rasa nyaman dan tenang. Di mana perasaan orang-orang ini? Kapan aku pergi dari neraka ini? Mengapa aku masuk ke dalam neraka ini?
Tepian Indah, Oktober 2025
Tanah ini sunyi, tapi tidak mati. Ia bernapas melalui akar-akar yang menggeliat dalam perih, menelan keringat para perantau dan transmigran yang datang dengan dada terbuka dan nama yang dilupakan bumi. Di sini, segala harapan lahir dari debu—bukan dari surga, tapi dari belukar yang menguji iman setiap langkah. Kadang, aku merasa bumi pun belajar menjadi sabar dari manusia yang terus menggali dirinya sendiri.
Api yang hanya hidup di tungku atau langit, yang membara menjelang tembaga senja. Ia hidup di dada para pekerja tambang, di mata yang menutup mimpi, di jantungku yang tetap bergetar di antara kebun sawit yang menyembunyikan kesepian. Aku menatap bara itu, dan tahu: api pun tidak ingin menjadi terang selamanya—kadang ia hanya ingin diterima sebagai hangat.
Tubuhku kelak menua bersama tanah ini. Setiap langkah adalah doa yang tidak selalu terdengar, tapi tetap tertulis di nadi bumi yang retak. Hanya bertulang keras seperti batu yang menolak menyerah, meski harapan di sini tak lagi bersayap. "Jangan dustai takdirmu, pasti itu terbaik untukmu", bisiknya di telingaku—lantaran hanya mereka yang berani hancur yang akan benar-benar tahu makna tumbuh.
Dan, di antara napas api, tanah, dan cahaya—aku menemukan sesuatu yang tidak bisa dinamakan. Bukan kebahagiaan, bukan pula kepasrahan. Hanya kesadaran bahwa pelarian ini bukanlah bentuk penyerahan, melainkan cara semesta memberi ruang bagi jiwa yang terlalu letih untuk berpura-pura utuh. "Tepian Indah; adalah luka yang belajar mencintai dirinya sendiri", kataku perlahan.Tepian Indah, Akhir Oktober 2025
meski kadang air mata dibutuhkan untuk memahaminya.
Dan, jika pada akhirnya kita hanyalah dua paragraf yang tak pernah menjadi satu cerita,
terima kasih telah menjadi salah satu jeda terindah dalam kisahku—
meskipun kau hanyalah sebuah titik koma yang tak pernah menjadi titik akhir.