Wikimedia Indonesia/Bulan Wiki GLAM 2025/Bincang GLAM
Bincang GLAM adalah sesi gelar wicara yang membahas proyek dan wacana seputar Galeri, Perpustakaan, Arsip dan Museum di Indonesia. Pada kesempatan kali ini akan hadir para penerima Hibah Mini GLAM Indonesia 2024 yang akan mempresentasikan temuan dan hasil akhir dari masing-masing proyek mereka.
Kegiatan ini terbagi menjad dua sesi dan diselenggarakan secara daring melalui Zoom.
Sesi Pertama: 18 Mei 2025 pukul 15.00 WIB
[edit]Pembicara:
[edit]Ahmad Ginanjar Purnawibawa
Digitalisasi Koleksi Etnografi Nias di Italia.
Project Digitalisasi Koleksi Etnografis Nias di Italia merupakan inisiatif kolaboratif untuk membuka akses publik terhadap koleksi budaya Nias yang tersimpan di Museum Antropologi dan Etnologi, Florence. Melalui pemanfaatan teknologi digital, proyek ini mendokumentasikan secara visual koleksi etnografis Nias guna mendukung pelestarian, edukasi, dan koneksi kembali dengan komunitas asal. Proyek ini juga menjadi bagian dari upaya dekolonisasi pengetahuan, dengan menjadikan koleksi digital sebagai jembatan untuk narasi yang lebih inklusif dan partisipatif.
Regina Mayzana & Widiatmoko Adi Putranto
Open Access in LAM: Research Studies on National LAM of Indonesia.
Koleksi budaya merupakan salah satu sumber informasi yang bernilai signifikan secara kegunaan, kelangkaan, maupun kesejarahan. Koleksi ini ada dalam berbagai bentuk dan media serta kerap tersebar melintasi batas geografis dan institusional. Institusi memori di tingkat nasional dapat dikatakan mengelola salah satu jumlah koleksi budaya yang terbesar. Riset ini mengeksplorasi potensi dan resiko yang melingkupi situasi digitisasi koleksi budaya di institusi LAM (Libraries, Archives, and Museums) nasional Indonesia pada persimpangan antara kebutuhan kerja pelestarian koleksi dan tuntutan penyediaan akses informasi.
Sesi Kedua: 25 Mei 2025 pukul 15.00 WIB
[edit]Pembicara:
[edit]Faizzatus Sa'diyah, Syefri Luwis, dan Dina Serevina Sinaga
Penelusuran dan Digitalisasi Arsip Perjalanan ICOM Indonesia
Mungkinkah arsip-arsip yang tersembunyi justru menyimpan kunci untuk merangkai kembali jejak sejarah kelembagaan internasional permuseuman Indonesia? Pertanyaan ini menjadi titik tolak dari proyek ini yang didokumentasikan dalam bentuk buku. ICOM yang merupakan sebuah komite permuseuman internasional menjadi salah satu saki sejarah perkembangan museum di Indonesia.
Dengan menelusuri dokumen dari Paris hingga Jakarta, proyek ini berupaya merekonstruksi narasi keterlibatan Indonesia dalam jaringan museum internasional, sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi publik dan komunitas budaya. Arsip-arsip yang lama terabaikan kini kembali hadir dalam percakapan sejarah—untuk dipahami, dibaca ulang, dan diwariskan.